THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

GUNADARMA UNIVERSITY

GUNADARMA UNIVERSITY

Jumat, 25 Maret 2011

SEKTOR PERTANIAN

Pengertian pertanian

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDBdunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, danstatistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan".

Peranan Sektor Pertanian

Menurut Kuznets, Sektor pertanian di LDC’s mengkontribusikan thd pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional dalam 4 bentuk:
Kontribusi Produk Penyediaan makanan utk pddk, penyediaan BB untuk industri manufaktur spt industri: tekstil, barang dari kulit, makanan & minuman .
Dalam system ekonomi terbuka, besar kontribusi produk sector pertanian bisa lewat pasar dan lewat produksi dg sector non pertanian.
·        Dari sisi pasar, Indonesia menunjukkan pasar domestic didominasi oleh produk pertanian dari LN seperti buah, beras & sayuran hingga daging.
·        Dari sisi keterkaitan produksi, Industri kelapa sawit & rotan mengalami kesulitan bahan baku di dalam negeri, karena BB dijual ke LN dengan harga yg lebih mahal.
Kontribusi Pasar Pembentukan pasar domestik utk barang industri & konsumsi .
Negara agraris merup sumber bagi pertumbuhan pasar domestic untuk produk non pertanian spt pengeluaran petani untuk produk industri (pupuk, pestisida, dll) & produk konsumsi (pakaian, mebel, dll) .
Keberhasilan kontribusi pasar dari sector pertanian ke sector non pertanian tergantung:
·        Pengaruh keterbukaan ekonomièMembuat pasar sector non pertanian tidak hanya disi dengan produk domestic, tapi juga impor sbg pesaing, shg konsumsi yg tinggi dari petani tdk menjamin pertumbuhan yg tinggi sector non pertanian.
·        Jenis teknologi sector pertanianèSemakin moderen, maka semakin tinggi demand produk industri non pertanian
Kontribusi Faktor Produksi Penurunan peranan pertanian di pembangunan ekonomi, makaterjadi transfer surplus modal & TK dari sector pertanian ke Sektor lain .
F.P yang dapat dialihkan dari sector pertanian ke sektor lain tanpa mengurangi volume produksi pertanianè Tenaga kerja dan Modal .
Di Indonesia hubungan investasi pertanian & non pertanian harus ditingkatkan agarketergantungan Indonesia pada pinjaman LN menurun. Kondisi yang harus dipenuhi untukmerealisasi hal tsb:
·        Harus ada surplus produk pertanian agar dapat dijual ke luar sectornya. Market surplus ini harus tetap dijaga & hal ini juga tergantung kepada factor penawaran è Teknologi, infrastruktur & SDM dan factor permintaan è nilai tukar produk pertanian & non pertanian baik di pasar domestic & LN .
·        Petani harus net saversè Pengeluaran konsumsi oleh petani <> .
·        Tabungan petani > investasi sektor pertanian .
· Kontribusi Devisaè Pertanian sbg sumber penting bagi surplus neraca perdagangan (NPI) melalui ekpspor produk pertanian dan produk pertanian yang menggantikan produk impor.
Kontribusinya melalui :
·        Secara langsungè ekspor produk pertanian & mengurangi impor.
·        Secara tidak langsungè peningkatan ekspor & pengurangan impor produkberbasis pertanian spt tekstil, makanan & minuman, dll .
Kontradiksi kontribusi produk & kontribusi deviasè peningkatan ekspor produk pertanianmenyebabkan suplai dalam negari kurang dan disuplai dari produk impor. Peningkatan ekspor produk pertanian berakibat negative thd pasokan pasar dalam negeri.
Untuk menghindari trade off ini 2 hal yg harus dilakukan:
·        Peningkatan kapasitas produksi.
·        Peningkatan daya saing produk produk pertanian .

KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PDB

Signifikannya pengaruh Produk Domestik Regional Bruto terhadap Distribusi Pendapatan maka perlu didorong lagi pertumbuhan unit-unit usaha masyarakat sehingga terjadi peningkatan dalam PDRB. Apalagi jika yang mengalami pertumbuhan adalah unit-unit usaha yang dimiliki oleh sebagian masyarakat pribumi sehingga perlu dorongan dari pemerintah untuk unit-unit usaha yang dihasilkan masyarakat pribumi. Tidak seperti selama ini yang mendorong pertumbuhan adalah unit-unit usaha yang dimiliki asing dan para konglomerat dan malah usaha milik asing yang ditumbuhkan pemerintah.
Untuk meningkatkan posisi tawar kita sehingga kita menjadi raja di negeri sendiri atau tidak bergantung pada asing maka banyak hal yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sehingga mampu menghasilkan produk (barang/jasa) yang berkualitas. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia tersebut harus disikapi dengan langkah konkret salah satunya adalah dengan cara mengadakan pelatihan tenaga kerja.
Dalam rangka untuk mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas maka dalam hal ini Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang selaku UPT Kementerian Pertanian yang bergerak di bidang pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki domain di bidang pertanian menjalankan misi demi mewujudkan manusia pertanian Indonesia yang berkualitas serta berusaha untuk mewujudkan Revitalisasi Pertanian seperti yang dicanangkan oleh Presiden SBY pada tahun 2004 yang lalu. Dengan menjalankan berbagai kegiatan pelatihan baik aparatur maupun non aparatur diharapkan dalam jangka panjang dapat merealisasikan Revitalisasi Pertanian sehingga sektor pertanian berkontribusi paling dominan terhadap PDB serta penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.
Berdasarkan data-data yang penulis peroleh, untuk keseluruhan tahun 2008, sektor pertanian tumbuh sebesar 4,8%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 3,4%. Kinerja sektor pertanian masih ditopang oleh subsektor perkebunan dan tanaman bahan makanan. Kinerja sektor pertanian yang membaik terutama disebabkan oleh membaiknya produktivitas subsektor tanaman bahan makanan yang bersumber dari peningkatan produksi pertanian selama tahun 2008 terutama di wilayah Jawa dan Sumatera. Disamping itu, kinerja sektor pertanian tersebut didukung oleh tingginya permintaan ekspor subsektor perkebunan terutama kelapa sawit pada paruh pertama tahun 2008 di Sumatera dan Kalimantan. Pada paruh kedua 2008, pertumbuhan subsektor perkebunan melambat terutama terkait dengan turunnya permintaan ekspor dan menurunnya harga komoditas perkebunan.
Nilai Produk Domestik Brutto (PDB) Dari hasil pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan atas dasar harga konstan 2000 adalah sebesar 284,6 Triliun pada tahun 2008 dan 296,4 Ttriliun pada tahun 2009 atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,1 persen. Sedangkan Peranan Sektor Pertanian terhadap PDB Indonesia tahun 2009 tumbuh dari 14,5 persen menjadi 15,3 persen sehingga sektor pertanian berada pada ranking kedua yang memiliki kontribusi terhadap PDB setelah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 26,4 persen.
Dewasa ini, Indonesia mengalami tiga masalah utama dalam membangun sektor pertanian, diantaranya adalah
·        Kemampuan pertanian
·        Ketergantungan pasokan dari luar
·        Produsen pangan luar negeri yang tidak menginginkan kemandirian pertanian Indonesia.
Langkah untuk mengatasi ketiga masalah itu yakni harus dibuat road map (peta jalan) untuk industri berbasis agro dan perkebunan, regionalisasi pengembangan komoditi untuk menuju skala ekonomi dan aglomerasi, pengembangan pertanian tanaman pangan, peternakan dan industri kecil menengah pedesaan.
kualitas infrastruktur dan social capital untuk sektor pertanian guna meningkatkan efesiensi, produktivitas dan inovasi. Pemerintah baik pusat maupun daerah harus lebih proaktif dalam membangun inisiatif dan tindakan untuk membuat jejaring kersajama usaha tani sebagai agenda pembangunan daerah. ”Selain itu pemerintah harus berani dan tegas dalam membuka, menciptakan, dan mengamankan pasar produk pertanian dan memihak petani.
Pemerintah dinilai gagal dalam membangun sektor pertanian, bahkan Indonesia lebih bangga menjadi negara pengekspor hasil perkebunan dengan mengabaikan sektor pertanian yang menjadi andalan Indonesia. Beberapa tahun terakhir ini terpaksa harus mengimpor bahan kebutuhan pokok, terutama beras dari negara lain. Karena lahan pertanian Indonesia yang sudah dipetakan serta pembangunan irigasi sejak zaman penjajahan Belanda, kini banyak yang telah beralih fungsi. Akibatnya, hasil pertanian kini tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan sekitar 235 juta jiwa penduduk Indonesia.Kondisi terus berkurangnya luasan areal pertanian dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat, membuat posisi tawar Indonesia menjadi semakin lemah, sehingga negara pengekspor bahan kebutuhan pokok dapat mengendalikan harga sesuka hati mereka.
Selain ketiga masalah diatas ada sejumlah faktor yang selama ini menjadi pemicu utama terpuruknya sektor pertanian, diantaranya :
-        Dari segi sarana dan prasarana, tidak ada dana pemeliharaan infrastruktur           pertanian, tidak ada pembangunan irigasi baru, dan pencetakan lahan baru       tidak berlanjut.
-        Dalam hal bebasnya konversi lahan pertanian, pihak pemerintah provinsi         dan pemerintah kabupaten tidak disiplin menjalankan pemerintahan dengan mengizinkan pengubahan fungsi pertanian yang strategis bagi ketahanan   negara.
-        Dari sisi kebijakan dan politik, penerapan otonomi daerah membuat sektor      tanaman pangan terabaikan. Para politikus membuat kebijakan demi partai,          bukan untuk kebijakan pangan rakyat. Keadaan semakin buruk dengan tidak     adanya keamanan dan stabilitas yang seharusnya dijalankan aparat penegak hokum

Mengembangkan sektor pertanian dengan teknologi

A. Rice Irrigation Management System (RIMS) di Tanjung Karang, Malaysia

Sistem ini dikembangkan oleh Eltaeb Saeed, Rowshon, M.K., Amin, M.S.M. Tujuan pembangunan RIMS yang didukung teknologi GIS (Geographic Information System) adalah untuk melakukan efisiensi penggunaan air dan meningkatkan produktifitas lahan pertanian. Teknologi GIS berfungsi untuk menyimpan data ke dalam basis data komputer sehingga memungkinkan untuk melakukan analisa wilayah geografi dalam hal ini wilayah yang dilalui saluran irigasi. Kemampuan sistem RIMS yang menggunakan teknologi GIS dapat mengembangkan manajemen air dengan baik. Sistem RIMS diterapkan di wilayah irigasi Tanjung Karang, Malaysia.

B. Glass House di MARDI, Malaysia

Teknologi Informasi juga memegang peranan penting di pusat penelitian pertanian Malaysia yang di kenal dengan nama MARDI (Malaysian Agriculture Research and Development Institute – www.mardi.my ). Implementasi teknologi informasi yang diterapkan di Glass House atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Rumah Kaca adalah pengontrolan lingkungan (environment control) melalui jaringan komputer. Fungsi rumah kaca adalah untuk melakukan proses penelitian yang berhubungan dengan pertanian seperti : rekayasa genetika bibit padi unggul, pembudidayaan padi dari hasil bibit unggul dan lain-lain. Sistem Kontrol pada rumah kaca ini sudah berjalan sejak tahun 2002.
Di dalam rumah kaca tersebut dipasang sensor suhu yang mengerakkan beberapa unit kontrol seperti kipas, sprinkler system dan lain-lain. Kesemua sistem tersebut dihubungkan melalui kabel ke pusat komputer. Jadi pusat komputer mengontrol 4 buah rumah kaca di tempat yang berbeda. Penerapan sistem ini dapat memberikan pengontrolan terhadap suhu sesuai dengan keadaan lingkungan yang dibutuhkan selama 24 jam.

II. Sebuah Solusi
Belajar dari pengalaman orang lain bukanlah hal yang memalukan. Hal yang patut kita sesalkan adalah tidak belajar dari pengalaman yang ada untuk meningkatkan kemampuan kita. Banyak para pakar di bidang teknologi informasi yang sudah memberikan usulan dan rancangan untuk merapatkan jurang digital di Indonesia. Selain merapatkan juga dapat berdaya guna untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Dalam tulisan ini berusaha merangkumkan apa yang menjadi bahasan pada sebelumnya dengan isu yang sama.

A. Pendidikan murah berbasis Teknologi Informasi
Banyak yang sudah dilakukan oleh pihak swasta untuk mencoba menggairahkan perkembangan teknologi informasi di Indonesia seperti training cisco untuk SMK dan yang terbaru program Internet Goes To School (IGTS). Dan juga usaha – usaha yang dilakukan PT. Telkom Divre V Jawa TImur yang menargetkan 1000 sekolah di Jatim masuk dalam komunitas sekolah yang tersambung ke akses internet. Telkom Divre V juga menjalin kerjasama dengan kampus – kampus untuk membangun teknologi informasi melalui Smart Campus. Inisiatif – inisiatif ini membuat angin segar perubahan terhadap dunia teknologi informasi Indonesia. Sangat disayangkan kalau hanya dilakukan oleh pihak swasta karena mereka tidak memiliki budget dana yang cukup besar untuk proyek pendidikan murah berbasis teknologi informasi. Kalau boleh saya berikan sedikit perbandingan dengan apa yang telah dilakukan oleh Negara jiran kita, Malaysia, yang mau menyisihkan anggaran Negara sebesar RM 10 juta (+/- Rp 25 Milyar) dalam Program Internet Desa (PID). Persyaratan untuk membangun PID adalah daerah yang memiliki taraf hidup yang rendah, akses internet rendah dan memiliki sambungan telepon. Sasaran dari program ini adalah orang tua, wanita, pemuda dan diperuntukkan dalam sektor pertanian, pendidikan dan kewirausahaan. Ada 39 lokasi yang akan dibangun PID ini dengan total biaya pembangunan lokasi saja tanpa mengambil dana yang telah dialokasikan sebesar RM 2,8 juta (+/- Rp. 7 Milyar). Oleh karena itu seharusnya pemerintah Indonesia juga mau menyisihkan anggarannya untuk pendidikan dan teknologi informasi lebih banyak.
Bagaimana mungkin kita dapat mengimplementasikan teknologi informasi dalam bidang pertanian bila para petani tidak diberikan pembelajaran melalui workshop mengenai teknologi informasi. Walaupun hal itu bukan hal yang mudah karena hal ini menyangkut banyak faktor dan salah satunya rendahnya pendidikan petani kita. Hal yang perlu dilakukan memberikan pemahaman tentang pentingnya teknologi informasi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan taraf kesejahteraan para petani kita. Sikap minimal yang diharapkan adalah tidak melakukan penolakan terhadap teknologi informasi. Pemahaman seperti itu harus dilakukan secara bertahap dimana mereka betul-betul merasakan manfaat dari teknologi ini. Termasuk perhatian yang besar dari pemerintah sebagai itikad baik untuk berusaha memajukan sektor pertanian Indonesia.

B. Ketersediaan Infrastruktur yang terjangkau oleh rakyat
Ketersediaan infrastruktur yang murah dengan koneksi yang cepat sangat diidam-idamkan oleh masyrakat Indonesia. Hal itu dapat berfungsi sebagai enabler bagi ide-ide inovasi yang berkembang dikalangan komunitas teknologi informasi. Sebagai contoh seperti apa yang dilakukan oleh sebuah komunitas teknologi wireless di Denmark dalam berusaha mengurangi biaya dalam upaya membangun jaringan wireless. Mereka membuat antena dengan menggunakan kaleng-kaleng bekas (http://thewirelessroadshow.org). Ide pembuatan antenna menggunakan kaleng ini juga sedang dipopulerkan di Indonesia khususnya banyak diimplementasikan di lingkungan kampus. Di Indonesia juga membangun VoIP Merdeka yang diprakarsai oleh DR. Onno W Purbo yang memberikan akses internet yang murah bahkan komunikasi SLJJ dan SLI dengan harga yang lebih murah dibandingkan menggunakan jaringan telpon biasa. Dengan upaya – upaya seperti ini seharusnya dapat memberikan jalan keluar untuk bisa menerapkan teknologi informasi di bidang-bidang seperti : pertanian, kedokteran, dan lain – lain. Artinya pemerintah dapat memanfaatkan produk – produk ini untuk dapat membangun infrastruktur teknologi informasi murah dan cepat sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi semua orang.

Sektor pertanian di Indonesia

Struktur perekonomian Indonesia merupakan topik strategis yang sampai sekarang masih menjadi topik sentral dalam berbagai diskusi di ruang publik. Kita sudah sering mendiskusikan topik ini jauh sebelum era reformasi tahun 1998. Gagasan mengenai langkah-langkah perekonomian Indonesia menuju era industrialisasi, dengan mempertimbangkan usaha mempersempit jurang ketimpangan sosial dan pemberdayaan daerah, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan kiranya perlu kita evaluasi kembali sesuai dengan konteks kekinian dan tantangan perekonomian Indonesia di era globalisasi.
Tantangan perekonomian di era globalisasi ini masih sama dengan era sebelumnya, yaitu bagaimana subjek dari perekonomian Indonesia, yaitu penduduk Indonesia sejahtera. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ada 235 juta penduduk yang tersebar dari Merauke sampai Sabang. Jumlah penduduk yang besar ini menjadi pertimbangan utama pemerintah pusat dan daerah, sehingga arah perekonomian Indonesia masa itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita juga semakin kuat.
Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.
Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebab dari produktivitas ini adalah karena pasokan air yang mengairi lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang kita miliki juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air yang dialirkan dari pegunungan ke lahan pertanian.
Sesuai dengan permasalahan aktual yang kita hadapi masa kini, kita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, terutama karena semakin murahnya produk pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia, dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian Indonesia.
Struktur tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen.
Sedangkan pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi.
ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan. 
Strategi pertama adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.
Strategi kedua adalah dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan, listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor ini.
Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia.
Saat ini kita mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kebijakan yang dapat membentuk struktur perekonomian Indonesia di masa depan. Namun, beberapa permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di masa ini perlu segera dibenahi, sehingga kita dapat meneruskan hasil dari kebijakan perekonomian Indonesia yang sudah dibangun puluhan tahun lalu, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sampai saat sekarang ini.

Analisis Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Yang Berkelanjutan

Peranan pangan menjadi begitu penting karena merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital untuk semua orang. Kuantitas ketersediaan pangan juga dapat digunakan sebagai salah satu tolak ukur kesejahteraan suatu bangsa, telah dibuktikan secara faktual dan empiris bahwa aksesbilitas terhadap pangan menjadi “sabuk pengaman” sebuah bangsa dari kehancuran, dimana sektor pertanian bisa mengurangi kemiskinan, mencegah kelaparan dan kekurangan gizi, dan sektor yang berdampak pada kualitas lingkungan hidup.
Jumlah pangan yang minim bisa menimbulkan dampak signifikan terhadap eksistensi bangsa. Hal ini menjadi suatu fakta ketika suatu bangsa mengalami krisis pangan, dimana permintaan akan pangan lebih besar dari penawarannya karena produktifitasnya tidak optimal, kondisi ini akan memaksa negara yang ”kelaparan” meminjam uang untuk bisa mengimpor pangan atau memperbaiki sistem pertanian tanaman pangan tersebut dari hulu sampai hilir.
Berdasarkan teori Chenery – Syrquin Growth Pattern, makin maju suatu negara maka peranan sektor pertanian terhadap GDP akan semakin menurun. Tentu saja kondisi ini sangat ironis bagi negara berkembang, dimana kebanyakan negara berkembang yang didominasi oleh sektor pertanian tidak mampu bersaing bahkan tergantung kepada negara maju. Transformasi struktural yang ideal yaitu sektor manufaktur dan jasa harus tetap bertumpu kepada sektor pertanian dan sebaliknya sektor pertanian mendukung sektor manufaktur dan jasa.
Kondisi Indonesia masih setali tiga uang dengan negara berkembang lainnya, masih rawan pangan. Maksud dari rawan pangan disini bukan karena ketidaktersediaan stok pangan melainkan karena terlalu bergantung terhadap produk pangan luar negeri dengan melakukan impor. Negara maju dapat menjual komoditasnya dengan harga murah karena pertaniannya telah efisien dan melakukan politik dumping, kemudian dampaknya untuk negara berkembang produktivitas petani menjadi turun sehingga pengangguran akan bertambah.
Demografi yang terkait dengan populasi penduduk turut mendukung pertumbuhan orang yang mengkonsumsi pangan tentunya akan menjadi lebih banyak. Pada tabel diatas (Others include: Mining, Electricity, gas, and water, and public services.)
kita bisa melihat bahwa pada tahun 2007 jumlah pekerja pada sektor pertanian meningkat 1,1 persen jika dibandingkan dengan tahun 2006. Apakah intensif untuk sektor pertanian begitu menjanjikan sehingga hampir 40 persen penduduk bergantung pada sektor ini? Mari kita lihat data dibawah ini :
Dari sisi ekonomi, jika harga pangan tinggi maka akan menyebabkan petani menuntut upah yang lebih tinggi, hal ini akan mengindikasikan menurunnya investasi baik domestik maupun asing. Kenaikan rata-rata nominal pendapatan petani di atas dengan kenaikan harga barang saat ini adjustmentnya tidak terlalu tepat yang akhirnya berimbas defisit anggaran kepada petani. Sedangkan perbedaan pendapatan antara Jawa dan luar Jawa terkait produktivitas kesuburan lahan pertanian di Jawa dan luar Jawa sehingga pendapatan di Jawa sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan di luar Jawa.
Landasan Teori dan Analisis
Kondisi pertanian dikatakan tidak menguntungkan karena terlalu bergantung pada alam, hal ini juga mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan berproduksi (risk and uncertanity) mengenai komoditas apa yang akan ditanam. Indonesia yang makanan pokoknya beras harus selalu bisa memenuhi stok aman nasional yang telah ditetapkan agar negara berada dalam posisi ”aman”. Tetapi sayangnya harga komoditas beras terus meningkat baik di pasar domestik maupun pasar internasional seperti pada grafik dibawah ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang siapakah yang untung jika harga pangan
naik
Peter Timmer (2002), pengamat perekonomian Indonesia khususnya pangan dari Center for Global Development (CGD, pernah memberikan usulan untuk liberalisasi perdagangan beras di Indonesia, kebijakan membatasi impor beras membuat harga beras lokal mahal yang pada gilirannya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkkan kemiskinan. Harga komoditi yang tinggi bisa mendatangkan multiplier effect tentunya dengan bantuan subsidi dari pemerintah. Sedangkan jika harga komoditi pertanian rendah berdasarkan hasil perhitungan hanya sekitar 20-25 % rumah tangga Indonesia akan lebih sejahtera bila harga beras tinggi, dan bukanlah mereka yang miskin, maka akan merugikan penduduk miskin. Tapi kebijakan harga yang rendah bukan kebijakan yang baik pula karena tidak menggerakan perkonomian pedesaan, yang tepat adalah menentukkan harga yang optimal yang tentu saja sulit untuk dilaksanakan.
Kemudian untuk mengurangi rawan pangan kita bisa melakukan 3 hal . Pertama, pemantapan sistem secara dini, intervensi memadai. Kedua, perbaikan manajemen usaha tani, inovasi kelembagaan dan Ketiga, meningkatkan pendapatan petani dari luar sektor pertanian. Dalam hal intervensi pemerintah sebaiknya benar-benar memberikan subsidi baik Blue Box (subsidi pupuk, benih, dll) maupun Green Box (subsidi untuk bencana alam, bantuan operasional, infrastruktur, irigasi, dll). Secara grafik Pada saat panen jumlah komoditas pertanian (Q) bertambah sedangkan harganya (P) turun karena inelastis sehingga harga pangan (P) turun dan pendapatan total petani (TR) akan turun. Kalau di negara maju jika P turun maka TR naik karena secara struktural ada subsidi dari pemerintah mereka sehingga petaninya sejahtera.
Subsidi yang terlalu berlebihan juga akan mematikan petani itu sendiri pada nantinya, kita mengenal hal ini dengan nama “swasembada at all cost”, yaitu apapun dilakukan untuk memberikan subsidi kepada pertanian, padahal masih ada sekktor lain yang memiliki return yang lebih tinggi dengan resiko yang kecil. Sebaiknya pemerintah menggunakan strategi ”swasembada on tren” dikaitkan dengan surplus dan defisit produksi, jika surplus maka pertanian akan swasembada, dan jika defisit mau tidak mau sector pertanian harus melakukan impor.
Teori Marginal Productivity of Capital oleh ekonom Pyndick juga bisa diadopsi sebagai gambaran input untuk mengeluarkan outputnya berupa komoditas pertanian. Untuk bisa meningkatkan produktivitas pertanian agar tidak melulu impor maka dikembangkanlah pertanian salah satunya dengan cara agrobisnis yang memang bukan hal yang baru lagi. Kesalahan sistem agrobisnis masa lalu sehingga kurang ada hasilnya hingga saat ini adalah pada masa lalu pada on farm produksi tidak mengembangkan sesuatu yang ada di hulu dan hilir. Oleh karena itu diperlukan supporting pollicies yang terkait dengan financing dan cost policy.

ISU ISU SEKTOR PERTANIAN


Penyelundupan


Di tengah kerja keras petani, persoalan penyelundupan telah menghancurkan usaha mereka. Kasus harga gula yang jatuh hingga Rp 2.600 per kilogram, padahal biaya produksi Rp 3.100 per kilogram pada tahun 2002, menjadi bukti bahwa petani dibiarkan menghadapi produk ilegal.

Kasus penyelundupan beras yang semula selalu dibantah oleh pejabat pemerintah, yang ternyata banyak terjadi, menyebabkan petani padi di berbagai daerah tidak bisa lagi menikmati harga dasar sebesar Rp 1.725 per kilogram gabah kering giling seperti yang ditentukan pemerintah .
Tidak perlu menunggu 100 hari untuk menuntaskan kasus ini. Dua kasus, yaitu penyelundupan 73.000 ton gula pada tahun 2004 dan penyelundupan beras sebanyak 60.000 ton, bisa diselesaikan kurang dari 100 hari. Bila dua kasus ini dituntaskan dengan menangkap seluruh pelaku, ini menjadi sinyal positif bagi petani.

Tanpa banyak mengeluarkan anggaran, penuntasan kasus ini akan meningkatkan gairah petani dalam memproduksi sejumlah komoditas pertanian. Penuntasan kasus ini juga menjadi tolok ukur sejauh mana penindakan penyelundupan di negeri ini. Bila didiamkan, penyelundup akan kebal. Akibatnya, penyelundupan akan lebih marak lagi. Belajar dari pemerintahan yang lalu, penuntasan kasus ini sangat membutuhkan koordinasi di antara anggota kabinet, mulai dari Menteri Keuangan yang membawahi Bea dan Cukai, kepolisian, hingga kejaksaan .

Konversi lahan

Pertumbuhan penduduk yang cepat diikuti dengan kebutuhan perumahan menjadikan lahan- lahan pertanian menciut di berbagai daerah. Lahan petani yang sempit makin terfragmentasi akibat kebutuhan perumahan dan lahan industri. Di sisi lain, daya tarik sektor pertanian yang terus menurun menjadikan petani cenderung melepas kepemilikan lahannya.
Petani lebih memilih bekerja di sektor informal dibandingkan dengan bertahan di sektor pertanian. Pelepasan kepemilikan lahan itu cenderung diikuti dengan alih fungsi lahan. Beberapa waktu yang lalu pemerintah telah memberi perhatian pada masalah ini. Salah satu yang penting dan diperlukan dalam masalah ini adalah data kecepatan konversi lahan per tahun. Dari data ini bisa diperkirakan dampak-dampak konversi itu.

Bukan hanya itu, kebijakan pemerintah lainnya juga bisa terarah, seperti kebijakan pembangunan perumahan dan kebijakan pembangunan jalan raya. Selama ini perumahan dan jalan raya mudah sekali mengambil lahan pertanian kelas satu atau yang beririgasi 
teknis.
Masalah konversi lahan juga bisa teratasi bila pemerintah daerah sangat ketat dalam hal penataan ruang. Pemerintah daerah harus tegas melarang pembangunan perumahan dan industri yang hendak menggunakan lahan di kawasan pertanian.

Penyakit hewan

Masalah peternakan kadang disepelekan. Dengan perkembangan perdagangan dunia yang diikuti dengan makin meningkatnya lalu lintas produk pertanian antarnegara, masalah penyakit hewan makin perlu dicermati.
Ketegasan pemerintah dan pengetahuan yang mencukupi mengenai masalah perdagangan internasional diperlukan dalam menghambat masuknya berbagai jenis penyakit hewan dari luar negeri. Wabah penyakit mulut dan kuku, flu burung, dan penyakit sapi gila di beberapa negara cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi kita bahwa penyakit itu telah menghancurkan pertanian sejumlah negara.

Produk impor

Berbagai produk pertanian impor telah masuk ke negeri ini. Sangat diperlukan sikap dan pandangan pemerintah mengenai produk-produk ini. Sikap dan pandangan ini akan memberi visi yang jelas bagi dunia usaha, peneliti, dan Departemen Pertanian dalam menjalankan kegiatan.
Isu-isu produk impor sangat sensitif bagi petani. Akan tetapi, melarangnya secara total juga akan mempersulit diplomasi perdagangan internasional. Serangan balik akan diterima jika tidak berhati-hati dalam melakukan pelarangan.
Apa pun yang diputuskan harus memberi gambaran yang jelas bagi semua pihak yang disertai dengan berbagai keuntungan dan risikonya. Keberanian pemerintah untuk membuat keputusan sangat diperlukan. Contoh yang jelas adalah dikeluarkannya kebijakan pengaturan impor gula dan penutupan impor beras yang dilakukan Depperindag beberapa waktu yang lalu.

Kekeringan

Isu sensitif lainnya di sektor pertanian adalah kekeringan. Di kalangan media massa, isu kekeringan kerap kali menjadi isu yang seksi sehingga begitu muncul kekeringan di suatu daerah gampang sekali diangkat menjadi isu yang besar. Padahal, kerap kali isu kekeringan hanyalah isu lokal.
Meski demikian, pemerintah harus melihat kenyataan rusaknya lingkungan di daerah tangkapan air sedemikian parah telah menjadikan kekeringan makin parah, hingga tanpa penyimpangan iklim pun kekeringan sudah sangat parah. Lihat saja kekeringan tahun lalu di atas 400.000 hektar dengan lahan puso sekitar 100.000 hektar, padahal pada waktu itu tidak terjadi penyimpangan.
Pemerintah tidak perlu menutup-nutupi kasus kekeringan. Cara-cara lama menutupi sebuah kasus dengan tujuan menenangkan rakyat tidak perlu lagi dilakukan. Keterbukaan dalam kasus ini yang diikuti dengan sejumlah upaya yang akan dilakukan pemerintah akan menenangkan petani dan masyarakat.
Bioteknologi
Isu bioteknologi, lebih tepatnya isu produk transgenik, dalam bidang pertanian akan makin muncul ke permukaan. Pertanyaannya, produk transgenik akan menjadi solusi atau menjadi masalah bagi kita? Kejelasan sikap pemerintah akan memberi gambaran yang jelas bagi dunia usaha dan peneliti untuk mengembangkan produk ini.
Kasus kapas transgenik beberapa waktu lalu telah menjadikan isu produk transgenik menjadi sangat sensitif dan melenceng. Kesalahan-kesalahan prosedur yang disertai dugaan suap telah membuat perdebatan terkait produk-produk transgenik menjadi tidak produktif.
Pemerintah perlu membuka kembali kasus kapas transgenik ini untuk memperlihatkan kepada publik tentang persoalan yang sebenarnya. Apalagi perusahaan yang mengembangkan kapas itu telah melaporkan adanya sejumlah dugaan suap dan penyalahgunaan dana dalam kasus itu .
Isu lainnya
Berbagai isu lainnya masih akan mewarnai sektor pertanian kita pada beberapa tahun mendatang. Isu perdagangan internasional dan perjuangan kita di forum dunia menjadi salah satu kunci penting bagi perlindungan sektor pertanian. Banyak negara mengambil pilihan melindungi petani dalam negeri daripada membiarkannya masuk pasar bebas. Kita memilih yang mana?
Persoalan harga dasar gabah, kelangkaan pupuk, banjir, tekanan produk impor juga masih akan menjadi persoalan bagi petani. Sengketa perdagangan internasional terkait produk pertanian juga bisa muncul.
Kurangnya ketertarikan tenaga kerja muda di sektor pertanian mulai muncul. Generasi muda cenderung meninggalkan sektor pertanian, untuk itu mekanisasi pertanian perlu menjadi alternatif pemecahan. Masih banyak isu pertanian lainnya yang memerlukan perhatian pemerintah.

Pemilihan umum telah usai, pemerintah baru telah terbentuk, kini saatnya petani menagih janji. Petani hanya menginginkan agar pemerintah memberi iklim usaha yang nyaman bagi mereka.
Kesimpulan

Permasalahan sektor pertanian kian hangat dibicarakan. Mulai dari nasib sektor pertanian pada negara berkembang masih diundervaluekan dari sektor yang lain sampai dengan tanpa kita disadari telah banyak kerusakan lahan yang terjadi akibat aktivitas eksploitasi pertanian di bumi yang kita cintai ini.
Banyak penyebab signifikan yang mengundervaluekan sektor pertanian, diantaranya dilihat berdasarkan alam (banjir, kering, hama, dll), ekonomi (harga jual turun terus sedang input naik, spread antara petani dan konsumen lebar), sosial (20 juta petani menanam di kurang dari ¼ hektar dan tidak efisien, 40% penduduk bekerja di sektor pertanian). Selain faktor yang telah disebutkan, faktor penyebab berikutnya adalah produktivitas yang minim yang bisa kita minimalkan dengan peningkatan kualitas skill dan peduli akan sustainable development.
Melalui teori Marginal Productivity kita dapat menganalisis pentingnya sektor pertanian dan bagaimana memanfaatkan lahan agar dapat awet. Hal ini dapat diaplikasikan dengan baik agar meminimalisir dan mencegah dampak kerusakan lahan yang akan berpengaruh pada stabilitas makro ekonomi (terutama inflasi), ketahanan pangan, pengangguran, dan kemiskinan. Pada dasarnya, kebijakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dalam sektor pertanian pada tulisan ini menjadi poin penting terciptanya produktifitas pertanian yang berkelanjutan dan meminimalisir cost yang terjadi akibat rusaknya lahan pertanian.
Daftar pustaka
agrimedia.mb.ipb.ac.id/.../2010-07-06_lala_Kolopaking-Sektor_Pertanian_Yang_Memakmurkan.doc
assets.wwfid.panda.org/downloads/sektor_pertanian.pdf

0 komentar:

detiknews - detiknews

Kaskus - The Largest Indonesian Community

Apple Hot News